Mengenal Hubungan Islam Dengan Kebersihan

Mengenal Hubungan Islam Dengan Kebersihan

Hubungan Islam Dengan Kebersihan
Mengenal Hubungan Islam Dengan Kebersihan - Islam merupakan agama yang sangat mencintai kebersihan, karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada umatnya untuk selalu berperilaku hidup bersih, menjaga badan serta lingkungan dari hadas dan najis. Kita tentunya sering mendengar bahwa Bersih itu indah dan bersih itu sehat, itu bukanlah sebuah kebohongan atau omong kosong belaka, karena faktanya dengan hidup bersih kita terhindar dari sumber penyakit yang dapat mengganggu metabolisme tubuh, dan dengan berperilaku hidup bersih lingkungan akan terasa nyaman serta akan lebih enak dipandang mata.

Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya: 

"Kerbersihan Sebahagian dari iman".{HR. MUSLIM} 

Dari hadist tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa menjaga kebersihan karena kebersihan tersebut sangat terkait dengan upaya peningkatan kualitas iman dan taqwa. 

Islam tidak hanya mengajarkan tentang kebersihan tubuh dan lingkungan, namun juga kebersihan hati. Islam memandang bahwa memelihara kebersihan adalah masalah penting yang wajib diperhatikan dan laksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Selain kebersihan islam juga mengajarkan tentang kesucian, bersih dan suci adalah dua hal yang tidak dapat di pisahkan. keduannya sangat erat berhubungan dengan kesehatan, meskipun arti katanya tak persis sama. Bersih merupakan kata sifat yang menunjukkan keadaan bebas dari kotoran. Kebersihan bersifat umum dan tidak terkait langsung dengan tata cara peribadatan. Namun demikian, tetap saja merupakan keharusan bagi setiap muslim untuk melaksanakannya dalam kehdupan sehari-hari. Sementara, suci dalam ajaran islam ialah terhindar dari najis dan hadas. Agar menjadi suci, seorang muslim haru mejalankan aturan berupa tata cara taharah (bersuci), Setelah bertaharah, baru kita dapat menjalankan ibadah-ibadah khusus, terutama sholat. 

Suci merupakan syarat sah seorang muslim untuk menjalankan ibadah khusus. Namun, apakah lantas cukup suci saja dan tidak perlu peduli dengan kebersihan? O, jangan begitu donk. Ambil contoh, asal kita sudah berwudhu, sholat kita memang akan terhitung sah. Dengan baju kotor berlepotan debu pun sholat kita tetap sah, karena debu itu suci dan tidak najis. Namun, pantaskah seperti itu? Tentu tidak. “Allah itu Maha Indah, dan Dia sangat cinta kepada keindahan,” begitu nabi pernah bersabda. Maka, faktor keindahan pun perlu menjadi perhatian, karena hal itu termasuk dalam adab atau tata karama. Asal tahu saja, rasulullah pun merupakan sosok pribadi yang selalu menjaga kebersihan, kesehatan, keindahan, tentu saja kesucian. 

Najis Dan Hadas 

Ada dua jenis kotoran dalam ajaran islam: 

Pertama adalah najis. Sifat najis adalah hissy (dapat dilihat). Misalnya air kencing, tinja, darah, dan nanah. 

Kedua adalah hadas. sifat hadas adalah ma’nawi (abstrak, tak terlihat). Contohnya adalah buang angin untuk hadas kecil dan keluar mani untuk hadas besar (junub). Awas, air mani sendiri tidak termasuk najis lho. Tetapi keluarnya mani menyebabkan kita berada pada kondisi berhadas. 

Allah dan Rasul-Nya juga telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara menghilangkan Najis dan Hadas, untuk membersihkan najis kita di perintahkan menggunakan air, atau batu, atau daun, atau debu yang suci. Untuk menyucikan diri dari hadas kita harus melakukan wudu’, tayamum, atau mandi besar. 

Dengan menjalankan tata cara penyucian diri (taharah) tersebut, seorang muslim akan menuai karunia berupa cinta dan tuhannya. Hal ini dapat dilihat dari ayat Al Quran yang Artinya : 

"Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri." [QS. AL-BAQARAH 2 : 222] 

HIKMAH BERSUCI 

Tak ada perintah Allah bagi kita yang sia-sia, semua pasti membawa kebaikan bagi kita, tak kecuali soal bersuci, Ada manfaat yang berlimpah bagi kita yang mau melaksanakannya. Manfaat langsung tampak di mata adalah keindahan. Satu contoh sederhana, orang lain akan senang melihat kita jika kita tampak bersih. Nah, bukankah keadaan semacam itu menunjukan bahwa diri kita “indah” dan sedap dipandang mata? Apalagi jika kita juga bersih dalam berpakaian, serta menjaga kebersihan lingkungan. 

Selain keindahan, ada manfaat yang tak kalah penting, yakni kesehatan. Banyak sekali penyakit yang datang dari kotoran. Misalnya, hanya karena jorok dan mandi saja, jamur kulit akan segar tumbuh subur merembak di kulit, belum lagi penyakit –penyakit lain, yang menyerang pencernaan. Itu baru berupa kesehatan jasmani dan lingkungan, selain itu kebersihan dan kesucian fisik juga membawa dampak pada kesehatan rohani kita. Maka, menjaga kebersihan dan kesucian merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim. Jika bisa dilaksanaakan dengan baik, niscaya hidup akan lebih tenang, ibadah bisa khusyuk, konsentrasi dalam mencari Ilmu, agar kita dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai khalifah di muka bumi dengan sebaik mungkin. 

Itu semua adalah manfaat bersuci lahir dan batin secara umum. Lebih jauh, ada pula manfaat-manfaat khusus yang bisa kita raih, terutama dalam tata cara taharah-taharah tertentu. Aktivitas membersihkan najis merupakan jejang untuk mencapai kesucian lahir. Utamanya adalah mencegah pelbagai penyakit yang ditimbulkan kotoran, sedangkan untuk kesucian batin, istinjak merupakan sarana pendekatan manusia kepada Allah, sebab dengannya seorang muslim bisa menjalankan ibadah secara sah dan benar. 

Contoh lainnya adalah wudu’, Selain bertujuan membersihkan tubuh dari hadas kecil, tapi juga banyak sekali makna dan hikmah yang dapat kita renungkan dari seluruh rukun maupun sunnah wudu’. 

Pertama, berkumur-kumur merupakan lambang penyucian mulut dan lidah, agar terhindar dari makanan yang di haramkan Allah, serta menjaganya dari perkataan kotor atau sia-sia. 

Kedua, membasuh muka dan sudut-sudut mata kita lakukan agar wajah selalu berseri indah, membuat orang lain senang melihatnya. Juga agar kita selalu menjaga pandangan mata, menghindarkannya dari sesuatu yang terlarang untuk dilihat, selain itu bagi orang yang teratur melakukan wudhu, maka jerawat tidak akan bersemi indah pada wajahnya, karena kotoran tidak pernah bisa bertahan lama berdiam dalam pori-pori wajah. 

Ketiga, membasuh tangan memuat makna agar tangan kita terjaga dari perbuatan tidak terpuji, seperti merampas hak atau menyakiti tubuh orang lain. 

Keempat, mengusap sebagian kepala bertujuan agar pikiran kita senantiasa bersih, dan otak kita mampu mampu menyerap ilmu Allah dengan baik. 

Kelima, dengan membasuh kedua daun telinga, berarti kita memelihara dari mendengar perkataan yang kotor dan tidak bermanfaat. 

Keenam, membasuh membasuh kedua kaki mengandung hikmah agar kaki terpelihara dari langkah yang salah, dari langkah-langkah menuju maksiat, dari langkah –langkah menjahui rida Allah swt. 

Itulah hikmah-hikmah yang bisa kita renung kan dari gerakan wudu’. Nabi memang tak pernah menjelaskan seperti itu dengan lugas. Namun kita di karunia hati untuk merenung dan otak untuk berfikir, sehingga penafsiran atas makna gerakan-gerakan wudu’ dapat kita renungkan. 

Contoh berikutnya Tayamum. Yaitu mengusap tanah (debu) ke muka dan kedua tangan sampai siku dengan beberapa syarat. Tayamum adalah pengganti wudu’ atau mandi, sebagai keringanan bagi orang yang tidak dapat menggunakan air karena beberapa halangan, seperti sakit atau dalam perjalanan sukar menemukan air atau memang tidak ada air. Taymum dengan debu yang suci dapat dilakukan untuk menyucikan diri dari hadas kecil maupun hadas besar. Nah, didalam tayamum pun ada makna yang tersirat yang perlu kita renungkan. Tayamum menggunakan debu kita udah tau itu, semua sudah paham itu. Secara umum, kita menganggap debu itu kotor, apalagi pada saat menempel di pakaian. Namun, kenapa menyucikan diri malah menggunakan sesuatu yang “kotor” itu? O, ternyata dari sudut pandang agama, debu itu suci. Itulah yang akan memaksa kita untuk menyadari bahwa sejatinya jasad kita tak beda jauh dengan debu. Bersuci dengan debu mengingatkan kita akan kejadian asal manusia, yakni tanah, kakek moyang bangsa manusia, Adam a.s, diciptakan Allah dari tanah dan kelak setelah matipun, jasad semua anak turunnya pun akan lebur kembali menjadi tanah. Hikmah yang lain adalah membuat kita bersyukur bahwa Allah selalu memberikan banyak kemudahan. Karena air wudu’ memang tak selalu bisa dapat di setiap tempat, maka debu yang ada dimana-mana menjadi pilihan. 

Contoh terakhir ialah menghilang kan hadas besar dengan mandi wajib. Bagi orang junub karena bersetubuh, secara lahiriah mandi wajib tak berdampak besar pada kebersihan tubuh. Hanya saja kesegaran fisik nya akan pulih, sehingga dapat kembali menjalankan aktivitas kehidupan dengan baik. Lebih jauh, secara batiniah, sungguh besar manfaatnya yang bakal didapat, Sebab mandi junub dapat menetralkan pengaruh kejiwaan akibat hubungan seksual suami istri, yang menyerupai naluri seksual hewani. Sehingga seorang muslim dapat kembali fitrah kesuciaannya. Bagi perempuan yang usai haid atau melahirkan, wajib mandi karena dapat membersihkan kotoran yang melekat pada dirinya. Juga memulihkan kekuatan serta kesegaran tubuhnya, sehingga bisa kembali beribadah dengan baik kepada Allah Azza Wa Jalla. 

Maka dari itu tak ada ruginya kita berperilaku bersih, dan tak ada ruginya pula kita mulai saat ini mengubah segala kebiasaan buruk kita selama ini, segala sesuatu tidak akan sulit jika dikerjakan dengan benar. Semoga artikel ini member manfaat bagi kita semua.
Tag : Informasi, Islami
0 Komentar untuk "Mengenal Hubungan Islam Dengan Kebersihan"

back to top